Kemiskinan dan Kesehatan Mental Anak: Faktor Risiko dan Perlindungan
kagajwale — Tragedi menyayat hati terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ketika seorang anak berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia. Insiden ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan psikologis yang dialami anak akibat kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas. Sebelum kejadian, korban diketahui sempat meminta uang kepada ibunya untuk keperluan sekolah, namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi.
Hubungan Kompleks antara Kondisi Ekonomi dan Kesehatan Jiwa
Peristiwa memilukan ini mengundang pertanyaan mendalam: apakah kemiskinan secara langsung dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang hingga berujung pada tindakan ekstrem? Dicky Pelupessy, Pakar dan Dosen Psikologi Sosial Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa perilaku manusia terbentuk dari interaksi faktor internal (nature) dan eksternal (nurture). Artinya, kondisi lingkungan, termasuk tekanan ekonomi, memang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Namun, Dicky menegaskan bahwa pengaruh kemiskinan terhadap kesehatan mental tidak bersifat langsung atau linear. Kondisi sosial ekonomi yang rendah lebih berperan sebagai faktor risiko atau pemicu tekanan. Sebagai contoh, orang tua yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan dasar seringkali memiliki waktu dan energi yang terbatas untuk pendampingan dan perhatian penuh terhadap anak-anak mereka.
Faktor Risiko dan Pentingnya Sistem Penyangga
“Masalah ekonomi dapat menjadi faktor penekan yang meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental. Namun, apakah kerentanan itu berkembang menjadi masalah nyata, sangat bergantung pada faktor lain, terutama faktor pelindung,” jelas Dicky.
Dia mencontohkan bahwa program bantuan sosial dari pemerintah sebenarnya dapat berfungsi sebagai “penyangga” bagi keluarga rentan. Jika dijalankan dengan jangkauan dan pengawasan yang optimal, program semacam ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga dapat berperan sebagai sistem deteksi dini untuk mengidentifikasi keluarga dan anak yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.
Mengenali Tanda-Tanda dan Memperkuat Perlindungan
Lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah, memegang peran krusial dalam mengamati perubahan perilaku anak. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain penurunan semangat belajar yang drastis, anak yang menjadi sering mengeluh, atau kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial.
Dicky juga menyoroti temuan penelitiannya yang menunjukkan bahwa kualitas perhatian, komunikasi, dan interaksi dalam keluarga merupakan benteng terpenting bagi kesehatan mental anak, terlepas dari kondisi ekonomi.
Membangun Jaringan Pengaman yang Holistik
“Tidak tepat jika kita menyimpulkan adanya korelasi langsung antara kemiskinan dan bunuh diri. Kemiskinan adalah salah satu faktor risiko di antara banyak faktor lainnya. Yang perlu kita perkuat adalah faktor protektif atau penyangga, seperti program pengentasan kemiskinan yang komprehensif dan sistem perlindungan anak yang kuat,” tegas Dicky.
Menurutnya, upaya perlindungan anak dan pengentasan kemiskinan harus berjalan beriringan dan saling melengkapi. Kedua pendekatan ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membangun ketahanan psikologis dan sosial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
