Dampak FOMO dan Konsumsi Berlebih pada Krisis Iklim
Budaya konsumsi berlebih atau overconsumption yang dipicu oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di media sosial ternyata memiliki dampak signifikan terhadap krisis iklim global. Fenomena ini menjadi perhatian serius berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga pegiat lingkungan hidup.
Peran Aktif Generasi Muda sebagai Agen Perubahan
Muhammad Imam, akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, menegaskan bahwa dibutuhkan kebijakan yang tegas untuk menanggulangi dampak konsumsi berlebih terhadap krisis iklim. Menurutnya, generasi muda harus mengambil peran aktif sebagai agen perubahan, bukan sekadar menjadi pengamat pasif.
“Orang muda harus aktif terlibat dalam proses kebijakan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan,” ujar Imam dalam seminar bertajuk “From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi” yang digelar di Kampus UI Depok.
Pendekatan Preventif dari Sisi Pemerintah
Dari perspektif pemerintah, Adam Faza Gimnastiar selaku Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menjelaskan adanya pergeseran pendekatan pengelolaan lingkungan. Pendekatan yang sebelumnya bersifat end of pipe kini beralih ke pendekatan preventif berbasis Sustainable Consumption and Production (SCP).
“Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat,” jelas Adam dalam kesempatan yang sama.
Keberlanjutan Membutuhkan Kolaborasi Lintas Sektor
Ariq Gilang Narendra, perwakilan dari sebuah perusahaan FMCG yang menjabat sebagai Sustainability & External Affairs Asst. Manager, menekankan bahwa keberlanjutan tidak bisa dicapai secara parsial. Dunia usaha harus berjalan beriringan dengan kebijakan publik dan kolaborasi lintas sektor.
“Dunia usaha harus berjalan seiring dengan kebijakan publik dan kolaborasi lintas sektor. Sangat penting menerapkan SCP di seluruh rantai nilai bisnis,” tegas Ariq.
Menjembatani Kesenjangan Kebijakan dan Kebutuhan Anak Muda
Co-Founder sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Partisipasi Muda (YPM), Neildeva Despendya, menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kehidupan generasi muda, termasuk meningkatnya risiko eco-anxiety. Ia meyakini masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan nyata generasi muda yang perlu dijembatani.
“Masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata generasi muda yang perlu dijembatani melalui partisipasi bermakna,” tandasnya.
Seminar dan FGD Melibatkan Puluhan Generasi Muda
Seminar yang diselenggarakan Yayasan Partisipasi Muda (YPM) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia pada 18 April 2026 ini melibatkan 95 orang muda berusia 16-24 tahun dari berbagai daerah di Jabodetabek dan sekitarnya. Peserta terdiri dari siswa SMP, SMA, dan mahasiswa dari berbagai bidang.
Setelah sesi seminar, para peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyusun policy brief. Setiap kelompok mensimulasikan proses negosiasi dan pengambilan keputusan antar aktor kebijakan, hingga menghasilkan rekomendasi konkret terkait konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Hasil policy brief diharapkan menjadi bentuk kontribusi nyata generasi muda dalam mendorong kebijakan lingkungan yang lebih progresif dan responsif terhadap tantangan zaman.
Melalui program ini, YPM menegaskan komitmennya untuk melawan budaya overconsumption sekaligus membangun kesadaran bahwa konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga tindakan politis yang berdampak langsung pada masa depan lingkungan dan arah pembangunan bangsa.
Sebagai informasi, Yayasan Partisipasi Muda (YPM) adalah organisasi nirlaba yang terbentuk sejak 2017. Organisasi ini berkomitmen memberdayakan generasi muda untuk berpartisipasi secara bermakna dalam proses demokrasi dan kebijakan publik melalui pendidikan politik, pelatihan kepemimpinan, dan ruang partisipasi yang inklusif. Tujuannya adalah memastikan suara generasi muda ikut menentukan arah masa depan bangsa.
