Search for:
  • Home/
  • lingkungan/
  • Inovasi Nanosilika dari Panas Bumi UGM untuk Pertanian Berkelanjutan
Inovasi Nanosilika dari Panas Bumi UGM untuk Pertanian Berkelanjutan

Inovasi Nanosilika dari Panas Bumi UGM untuk Pertanian Berkelanjutan

kagajwale — Sebuah terobosan inovatif dihasilkan dari dunia akademik Indonesia. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil mengembangkan material nanosilika yang bersumber dari panas bumi atau geothermal. Inovasi ini dirancang untuk berfungsi sebagai penyubur dan penguat tanaman, membuka jalan menuju aplikasi industri yang lebih luas di masa depan.

Potensi Besar Geothermal Indonesia

Latar belakang inovasi ini sangat kuat, mengingat Indonesia memiliki kekayaan panas bumi yang luar biasa. Potensinya mencapai sekitar 40 persen dari cadangan dunia, atau setara dengan 23.965,5 Megawatt (MW). Sumber daya ini tersebar di berbagai pulau seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Pemanfaatan geothermal tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan energi nasional dan mengurangi emisi karbon, tetapi juga, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian ini, dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi untuk sektor lain.

Dari Limbah Panas Bumi Menjadi Pupuk Canggih

Melalui serangkaian rekayasa material dan pengendalian proses yang dikembangkan secara bertahap, silika yang terkandung dalam fluida geothermal berhasil diolah menjadi partikel nanosilika. Material hasil olahan ini memiliki karakteristik unggul, stabil, dan konsisten.

Manfaat Nanosilika untuk Tanaman

Dalam sektor pertanian, nanosilika memainkan peran penting. Material ini berfungsi untuk memperkuat dinding sel tanaman, sehingga meningkatkan ketegakan batang dan ketahanan terhadap tekanan lingkungan. Selain itu, nanosilika juga memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi di dalam tanaman.

Keunggulan utama terletak pada ketersediaan hayatinya yang tinggi. Ukuran partikelnya yang sangat kecil dan bentuknya yang spesifik membuatnya mudah diserap oleh tanaman. Efisiensi penggunaannya pun sangat signifikan.

Mendukung Pertanian yang Lebih Efisien dan Berkelanjutan

“Dosis penggunaannya sangat efisien, hanya sekitar 1 hingga 2 kilogram per hektare,” jelas Himawan. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan pupuk makro seperti NPK. Dengan demikian, inovasi nanosilika dari panas bumi ini tidak hanya menawarkan solusi untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan untuk masa depan.